Perlawanan terhadap kolonialisme ditandai oleh reaksi lokal kerajaan-kerajaan Nusantara melawan kongsi dagang Eropa (Portugis & VOC). Perjuangan bersifat kedaerahan, bergantung pada kepemimpinan raja/bangsawan, dan mudah diadu domba (devide et impera).
- Sifat Lokal: Terbatas pada wilayah kerajaan masing-masing tanpa adanya koordinasi antardaerah.
- Ketergantungan Figur: Sangat bergantung pada karisma raja atau pahlawan setempat; perlawanan langsung surut jika pemimpinnya ditangkap atau gugur.
- Persenjataan: Kalah jauh dalam teknologi militer dibandingkan benteng dan senapan armada Eropa.
- Strategi Politik: Rentan terhadap taktik adu domba (devide et impera) VOC yang memanfaatkan konflik internal kerajaan.
Jatuhnya Malaka (1511): Keberhasilan Portugis di bawah Alfonso de Albuquerque menguasai Malaka mengancam stabilitas politik & ekonomi kerajaan Islam di Nusantara.
Gangguan Perdagangan: Monopoli rempah-rempah oleh Portugis memutus jalur perdagangan pedagang Muslim Jawa di Selat Malaka.
- Serangan Pertama & Kedua (1512/1513): Raden Patah mengutus Pati Unus memimpin 100 armada kapal ke Malaka. Serangan dipatahkan Portugis karena kalah canggih dalam teknologi persenjataan.
- Peristiwa Sunda Kelapa (1527): Sultan Trenggana mengirim armada Demak-Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah. Perlawanan berhasil total pada 22 Juni 1527. Sunda Kelapa diubah namanya menjadi Jayakarta.
Portugis bersikap serakah dalam memonopoli perdagangan rempah-rempah serta mencampuri urusan internal Istana. Pada 1570, Gubernur Portugis Diogo Lopes de Mesquita secara licik membunuh Sultan Khairun.
- Sultan Baabullah naik tahta dan mengikrarkan perang jihad mengusir Portugis.
- Sultan Baabullah menggalang persatuan kerajaan-kerajaan di Maluku (termasuk Tidore).
- Pasukan Ternate mengepung Benteng Portugis selama 5 tahun (1570–1575).
- Pada 28 Desember 1575, Portugis menyerah karena kehabisan logistik dan diusir dari Ternate.
Sultan Agung dari Mataram berambisi menyatukan seluruh Pulau Jawa. VOC menduduki Batavia (1619) dan menolak mengakui kedaulatan Mataram.
- Serangan Pertama (1628): Dipimpin Tumenggung Bahureksa, gagal membendung meriam benteng VOC.
- Serangan Kedua (1629): Sultan Agung mendirikan lumbung beras di Tegal & Cirebon, namun dibakar VOC. Pasukan Mataram menderita kelaparan dan wabah penyakit (meski Gubernur Jenderal JP Coen tewas di Batavia).
- Kedua serangan gagal merebut Batavia karena kelemahan logistik.
Kesultanan Gowa memegang prinsip bebas berdagang (Mare Liberum) di pelabuhan Somba Opu. Sultan Hasanuddin menolak keras ambisi monopoli VOC.
- VOC di bawah Cornelis Speelman menjalankan taktik adu domba dengan merangkul Aru Palakka (Pangeran Bugis dari Bone).
- Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani Perjanjian Bongaya (1667).
- Perlawanan kembali dilakukan pada 1668, namun Benteng Somba Opu jatuh ke tangan VOC pada 1669.
Sultan Ageng Tirtayasa menjadikan Banten sebagai pelabuhan dagang internasional saingan Batavia dan menolak monopoli VOC.
- Sultan Ageng menerapkan strategi perang gerilya dan perusakan terhadap perkebunan tebu VOC.
- VOC membalas dengan politik adu domba antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan putranya, Sultan Haji.
- Terjadi perang saudara. Pada tahun 1683, Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap oleh VOC melalui tipu muslihat.
- Kurangnya Persatuan: Belum adanya kesadaran nasional sebagai satu bangsa.
- Politik Adu Domba (Devide et Impera): VOC memanfaatkan perpecahan keluarga kerajaan atau persaingan antarkerajaan.
- Kelemahan Logistik: Serangan jarak jauh sering kali gagal karena kehabisan pasokan dan penyakit.
- Persenjataan: Keunggulan teknologi benteng dan kapal meriam Barat.
Meskipun mengalami kegagalan secara militer, kegigihan para raja dan rakyat Nusantara berhasil memperlambat penguasaan penuh kolonial serta menanamkan semangat perlawanan bagi generasi berikutnya.